

KIDUNG KEESAAN 233. LIHAT BUNDA YANG BERDUKA
do = f 4/4 MM + 80
Bait 1
Lihat bunda yang berduka di depan salib Sang Putra;
air mata bergenang.
O betapa jiwa ibu tersedu menanggung pilu,
bagai ditembus pedang.
Bait 2
Bunda Putra Tunggal Allah, disebut “yang berbahagia”,
kini sangat bersedih.
Hatinya dirundung duka kar’na Putra yang termulia
bersengsara di salib.
Bait 3
O siapa tidak pilu menyaksikan bunda Kristus
menangisi Putranya?
Dan siapa tak tergugah menyelami duka bunda
dalam siksa Anaknya?
Bait 4
Dilihat-Nya Yesus, Putra, yang tersiksa dan terluka
kar’na dosa umat-Nya
dan bergumul sendirian menghadapi kematian
menyerahkan nyawa-Nya.
Bait 5
Wahai bunda, sumber kasih, biar turut kuhayati
dukamu yang mencekam;
biar hatiku bernyala mengasihi Putra Allah
dan pada-Nya berkenan.
Bait 6
Biarlah sengsara aib dari Dia yang tersalib
tersemat di hatiku;
biar siksa salib itu yang ditanggung-Nya bagiku
kudekap bersamamu.
Bait 7
Biar aku di sampingmu pilu kar’na wafat Kristus
di sepanjang hidupku:
inilah keinginanku: di dekat salib Putramu
besertamu tersedu.
Bait 8
O perawan yang terpilih, perkenankan aku ini
ikut dikau bersedih;
biar kematian Tuhan dan darah-Nya yang tercurah
kukenangkan tak henti.
Bait 9
Biar aku pun terluka, menghayati salib Tuhan,
digerakkan kasih-Nya.
Hatiku engkau kobarkan; biar aku dibebaskan
dalam penghakiman-Nya.
Bait 10
Biarlah salib Tuhanku jadi benteng naunganku
dan kurasa rahmat-Nya.
Biar nanti aku mati biar aku mewarisi
kemuliaan yang baka.
Syair: Stabat mater dolorosa, Anonim Latin, 1200/1300, terj. Yamuger, 1984
Lagu: Jerman (Köln), 1638